Andai Aku Melihat-Mu
Aku pernah merasakan
hal yang dapat membuatku terbang lalu jatuh, menang kemudian kalah, dan
terbangun dalam tidur yang singkat. Seakan aku bisa menggapai semuanya hanya
dalam satu genggaman tangan. Aku pernah mengeluh karena kecewa, apalagi
kegagalan yang aku ciptakan sendiri. Semua hal yang membuatku hilang pernah aku
rasakan, pernah aku alami. Hingga pada satu titik dimana aku terlalu percaya
diri dengan hanya sedikit kemampuanku. Dengan hanya sedangkal pengetahuanku.
Perjalanan hidup telah
aku lalui, telah aku lewati, telah aku arungi. Dari yang awalnya aku tak
mengenal huruf, tak mengenal angka, apalagi yang namanya algoritma. Semuanya
sudah aku cicipi. Walau hanya percikannya saja.
Aku hanya hidup di
sebuah perkampungan kecil yang minim akan fasilitas dari pemerintah. Jalan
utama penghubung desa saja masih selalu digenangi air kala musim hujan tiba.
Sampai para warga menanam pisang di tengahnya. Karena menurut mereka itu adalah
salah satu cara agar pemerintah tersentuh hatinya. Tergerak jiwanya, ingin
memperbaiki fasilitas yang ada. Dalam hati, “bagaimana bisa tersentuh, kalau pun
ada pejabat pemerintah yang ingin mengunjungi desa kami, mau lewat jalan mana?
Semua jalan banjir”. Itu baru jalan yang masih jauh dari kata nyaman. Sekolah
pun ala kadarnya. Hanya diisi oleh guru-guru dari luar kota yang memang mereka
siap ditempatkan dimana saja. Sedangkan orang dalamnya tak ada. Bagaimana mau
ada orang dalam, cara menempuh pendidikanpun harus mengeluarkan tenaga lebih.
Kemana-mana pakai sepeda, bahkan banyak yang jalan kaki. Boro-boro angkutan
kota. Yang punya sepeda saja bisa dihitung orangnya.
Kepercayaan diriku
mulai muncul saat aku mendapat peringkat di kelas. Walau bukan yang pertama,
aku yakin aku bisa mengejar mimpi. Aku yakin aku bisa melakukan keberandaian
yang selalu muncul dalam diri. Aku bisa menjadi ini, menjadi itu, membangun
ini, dan mendirikan itu.
Saat itu pengetahuanku
hanya sebatas apa yang disampaikan oleh guru. Perpustakaan jarang buku.
Internet, oh aku belum mengenalnya. Aku hanya tahu segala sesuatu yang memang
aku ketahui. Aku tak pernah mencari. Tak pernah ingin mencari. Mungkin hanya
jika saat itu aku menginginkannya, aku dapat melihatnya.
Percaya diriku terus
dan terus bertamabah manakala aku dinyatakan lolos seleksi sebuah perlombaan
tingkat Nasional dan harus mengikuti babak selanjutnya. Aku merasa aku adalah
orang yang paling beruntung. Sampai-sampai aku tak pernah percaya. Tapi aku tak
mengesampingkan orang-orang disampingku pada saat itu. Karena aku juga tahu
bahwa mereka jauh lebih mengetahui segala sesuatu dari pada aku. Oh iya, pada
saat itu aku lolos karena aku sangat percaya pada kekuatan-Nya, pada kekuatan
Tuhan. Karena jujur, pada saat satu hari sebelum pengumuman seleksi, aku
menangis dan meneterkan air mata begitu derasanya hanya karena aku ingin lolos.
Hanya sebatas itu, dan aku percaya bahwa semuanya berkat doa. Doa memang
memberikan keajaiban. Doa memang penghubung antara manusia dengan Sang Pencipta.
Makanya aku tak pernah berhenti berdoa sebelum hasil seleksi diumumkan.
Hingga pada akhirnya
aku memutuskan untuk melanjutkan babak selanjutnya. Tentunya dengan doa dan
restu orang tua. Ngomong-ngomong mengenai orang tua. Orang tuaku pernah
bertanya sebelum keberangkatanku menuju tempat seleksi tahap lanjutan dari
perlombaan tersabut. Karena tempatnya harus lintas pulau, mereka sangat
mencemaskan dan pernah menahan aku untuk tidak pergi. Mereka bertanya “apa yang
akan kamu berikan nanti jika kami mengizinkanmu pergi, Nak?”. Seketika aku
hanya bisa diam, hingga keluar sebuah ucapan yang malah membuatku angkuh. “Jika
aku berhasil nanti, yang bakal terpandang adalah kalian berdua”. Sangat sombongnya
ucapanku pada saat itu. Tapi mereka kemudian mengiyakan perkataanku dengan
titipan aku tak boleh lupa pada Sang Pemberi napas. Jangan tinggalkan kewajiban
terhadap-Nya. Hingga aku mengucap kata “iya”. Aku tak pernah takut melaksanakan
apa yang mereka titipkan. Karena selama aku di sekolah, aku tidak pernah lupa mengerjakannya.
Lagi-lagi aku percaya diri bahwa aku tidak akan pernah meninggalkannya. Hingga
kemudian aku mengenal orang lain, mengenal beberapa orang, mengenal berbagai
logat bahasa dari Sabang sampai Merauke. Aku mencari teman, mencari kawan,
mencari orang yang cocok denganku. Sampai saatnya aku menemukan apa yang aku
cari.
Di kehidupan baruku,
awal mula aku menyesuaikan diri, aku tak lupa pada kewajibanku. Hingga pada
akhirnya percaya diri muncul kembali. Aku percaya aku bisa. Aku yakin aku
mampu. Karena aku selalu melihat ke belakang, manakala aku di sekolah dulu
sering mampu menyelesaikan soal dari guru. Dulu aku mampu mendapat nilai yang
aku harapkan. Dan aku mampu lolos pada perlombaan ini. Aku sangat yakin jika
aku bisa melaluinya. Tapi aku lupa pada satu hal. Aku terlalu asik dengan dunia
baruku. Aku terlalu sibuk dengan urusan duniawi. Hingga aku sadar bahwa aku
telah meninggalkan-Nya. Aku mengingat-Nya hanya bila orang lain bertanya. Aku
mengingat-Nya hanya bila orang lain mengingat-Nya pula. Aku latah dengan semua
orang di sekelilingku. Aku percaya bahwa aku bisa karena sebelumnya aku selalu
bisa. Dengan tidak mengingat-Nya pun aku selalu yakin dengan apa yang aku
punya. Satu kesalahanku, aku terlalu melihat masa lalu. Aku tak pernah melihat
masa depan. Aku terlalu sombong dengan apa yang aku punya saat ini. Aku terlalu
percaya diri dengan apa yang aku ketahui. Aku terlalu angkuh dengan
keterbatasan yang aku punya. Hanya karena aku tak mau dipandang bodoh, tak mau
dipandang ketinggalan zaman.
Aku selalu ingin ini
dan ingin itu. Tapi usahaku payah. Payah bagai sesuatu yang tak punya nilai
jual. Aku banyak mimpi, tapi tak tahu cara mendapatkannya. Hal yang membuatku
terlalu percaya diri malah merusak kehidupanku. Malah bisa mengecewakan orang
tuaku. Andai aku melihat-Mu. Aku mungkin tak jatuh sedalam ini. Aku mungkin tau
apa yang harus aku kerjakan berikutnya. Andai aku melihat-Mu. Bisa saja jika
saat ini aku sedang bersyukur. Bersyukur atas segala hal yang Kau berikan.
Bukan terpuruk atas sesuatu yang tak bisa aku mengerti. Andai aku selalu
melihat-Mu. Mungkin aku tak akan menyimpan rasa percaya diri terlalu tinggi.
Hingga aku terlalu jatuh. Dan pada akhirnya aku menang untuk kalah.
Nice
BalasHapus