Teman Usia Dewasa: Sebuah Cinta Non-Romantis yang Menyakitkan

Temen gue pernah bilang "gamau banyak drama soal pertemanan, gamau ada lagi kecemburuan soal pertemanan. Gapapa temenan dan sering main sama orang yang sama setiap saat".

Karna kami sudah temenan udah lebih dari 1 dekade, jadi gue sangat paham dan bisa related sama ucapannya.

Dari sana gue jadi tertriger untuk bahas "sedikit" tentang friendship.

Intinya gue sangat sependapat. Banyak orang berbicara tentang asamara, cinta, keluarga, hingga pekerjaan. Banyak banget orang-orang yang sejak kita kecil ngasih petuah-petuah soal hal tersebut. Tapi ternyata sangat jarang orang ngebahas tentang "hati-hati, suatu saat kamu bakal kehilangan temanmu".

Sampe pernah ada pertanyaan pada seseorang yang isinya "what's an adult problem nobody prepared you for?". Lalu ia menjawab "Losing friends" - "I think people talk about heartbreaks from relationships all the time, but nobody ever tells you how hard it is to lose your friends" lanjutnya.

Ya, di dunia ini begitu banyak lagu tentang patah hati, tapi tidak banyak tentang cinta yang non-romantis.

di usia yang hampir menginjak usia 30, gue cukup banyak melewati patah hati soal pertemanan. Dari mulai pertengkaran yang tak terduga, salah paham, hingga hanya sekedar terpisah oleh jarak dan waktu yang akhirnya secara bertahap menarik mereka menjauh dari hidup gue.

Atau yang lebih menantang adalah memiliki teman yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia tapi gabisa berbagi meja buat ngopi karna mereka tinggal jauh. Kita bisa saling berbagi cerita tentang hari-hari yang dilewati, tentang kehidupan, keluarga, dan asmara, tetapi tidak bisa mengalaminya bersama. Hal yang membuat takut adalah, seiring berjalannya waktu, chat dan telpon mungkin akan menjadi  berkurang bahkan bisa sampai berhenti saling kontekan.

Sebagai seseorang yang sudah menginjak dewasa, gue setuju banget kalo gausah temenan sama orang-orang yang masih banyak drama. Kalo ngomongin soal kopi, di usia segini udah mulai maklum kalo temen gue gabisa sharing table for our coffee. Apalagi kalo yang bersangkutan banyak alesan sana sini kalo diajak ngopi, diajak makan, dan diajak main (tetep masih perlu main ga sih guys walo misal kita udah sampe kakek-kakek dan nenek-nenek<?>). Kalo emang dia gabisa, yaudah, gue akan bisa milih untuk sendirian aja, atau paling sama temen yang itu lagi itu lagi.

Karna nyatanya berteman sebagai orang dewasa tidak semudah saat kita belia. Walau banyak bertemu orang (teman) baru yang bisa coffee dates sambil menceritakan yang telah kita lalui kepada mereka. Seringkali kita merindukan kopi yang di depan kita ada seseorang yang udah mengenal kita dengan baik - seseorang yang tau rekapan hidup kita selama ini.

Gue sih berharap gue bisa menjaga semua temen gue, semua orang yang gue sayangi. Tapi sayangnya, hidup tidak berjalan mulus seperti yang kita harapkan, dan kehilangan orang menjadi bagian dari itu.

Sebagai orang yang dari dulu gapernah sanksi soal pertemanan dan sebagai orang yang seneng berkumpul dengan teman-teman. Gue bahkan bisa lebih milih main sama mereka ketimbang (misalnya) menghadiri acara nikahan sodara yang sakral.

Tapi terkadang, gue bertanya-tanya, apakah semua orang yang gue sayangi dan gue cintai di sepanjang jalan mikirin gue, dan apakah mereka berharap yang terbaik untuk gue seperti yang gue lakukan buat mereka(?)

Tapi makin ke sini makin sadar, sambil banyak diperlihatkan ini itu, ternyata tidak semua orang memikirkan kita dan berharap yang terbaik buat kita. ____ Kita gak bisa ngontrol orang-orang di sekitar kita buat bisa kayak gitu ke kita, loyal ke kita, loyal seperti kita.

____

Sekali lagi bicara soal coffee dates, gue sekarang lebih milih sering pulang ke rumah daripada membuat agenda ketemuan yang gue jadwalkan dan gue yang banyak efforts. Energi di usia ini ternyata sudah habis hanya untuk membujuk mereka "ayo ikut aja" atau sekedar bertanya "kenapa gajadi ikut?", dll. Sekarang lebih ke "kalau dia gamau, gausah dipaksa", "kalau dia gajadi ikut, artinya dia gabisa".

Tapi satu hal, jika saja mereka tau kalau gue sangat berterima kasih atas waktu yang pernah kita lalui bersama, juga untuk mereka yang sudah membantu dan menjadikan gue seperti sekarang ini, tak terbendung rasanya ucapan terima kasih dan doa yang tulus dalam hati.

I hope you guys sehat selalu, dilindungi Tuhan dimanapun kalian berada. Menemukan kebahagiaan dan mendarat pada tangga mimpi yang amat tinggi.

____

Ya, intinya untuk menekankan pada poin pertama tentang bagaimana patah hati pertemanan itu sangat menyakitkan, kenapa tidak ada lebih banyak lagu tentang mereka?


__________________________

Love you guys,

Bandung, 20 Juni 2025

Sambil mendengarkan lagu "Bertaut"nya Nadin Amizah pada bait pertama



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Pernah Benar-Senar Suka

Andai Aku Melihat-Mu