"seperti" Cerpen

            Berawal dari seorang yang dari kecil memang sudah tak merasakan apa arti cinta. Bukan karena ia tak memiliki orang tua, melainkan mereka tak mengerti apa arti cinta yang sebenarnya. Tahun 1987 kedua orang tuaku masih usia belia, umur mereka lumayan jauh, tujuh tahun perbedaan umur mereka. Ayahku berusia 19 tahun pada masa itu, dan tentunya Ibuku lebih muda tujuh tahun dari Ayahku. Kurasa ini tak perlu dijelaskan lagi. Tapi aku ingin menuliskannya agar lebih detail. Mereka pun merasakan yang namanya cinta, ketika mereka sekolah di tempat yang berbeda, mereka selalu membuat janji untuk bisa bertemu. Tapi kembali lagi ke perbedaan umur mereka yang cukup jauh, memang aneh rasanya jika kita melihat ke masa sekarang kita alami. Virus cinta pun menyebar di berbagai kalangan, dari yang dewasa, remaja, bahkan anak kecil pun tahu apa itu cinta tanpa memikirkan lebih arti cinta itu untuk kehidupan mereka di masa depannya. Usia sembilan tahun pun sudah mengenal arti cinta, malah mereka menganggap dirinya telah memiliki yang namanya kekasih. Sungguh aneh hidup di zaman ini, saat orang tua tak begitu menghiraukan anaknya, mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Mereka hanya ingin aknak-anaknya mengikuti apa kemauan mereka dengan kalimat yang memang bisa meluluhkan hari seorang anak. “Kami hanya ingin yang terbaik untukmu nak” begitulah yang sering mereka katakan ketika anak-anak mereka ragu akan keinginan orang tuanya. Sungguh ajaib, bagai mantra yang mampu mendatangkan sihir kepada hati seorang anak sehingga anak tersebut luluh.            Cerita ini mengisahkan cerita hidupku. Iya, anak kecil yang tak pernah merasakan apa itu cinta, ia adalah aku. Aku tak tahu sebenarnya cinta itu apa, siapa, dan untuk apa. Orang sekelilingku hanya bisa berkata “cinta itu adalah sebuah perasaan, perasaan yang timbul dari dalam hati ketika kita melihat sesuatu yang memang kita lihat nampak berbeda. Cinta itu ialah anugrah yang diberika Tuhan untuk kita sebagai hambaNya, agar kita bisa hidup bahagia dalam kekekalan cinta”. Kalimat itu ynag sering aku dengar dari mulut basi mereka.            Oh iya, namaku Ammar, aku lahir dari keluarga yang cukup untuk menghidupi keluargaku sendiri. Sekarang aku duduk di bangku kuliah semester 2. Aku masuk perguruan tinggi negri cukup besar di Indonesia ini. Setiap tahun, peringkat perguruan tinggi ini selalu masuk dalam sepuluh besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Namun aku akan memuali kisahku dari bangku SMA, diaman aku mengenal untuk pettama kalinya arti sebuah cinta, kasih, dan sayang. Aku seorang yang tidak mudah bergaul dengan lingkungan yang asing disekitarku. Aku lebih memilih untuk tidak memulai percakapan ketika aku sedang duduk berdekatan dengan seseorang yang belum aku kenal. Menanyakan namanya pun aku tak sudi.            Dibukanya penerimaan siswa baru di satu-satunya SMA yang ada di daerah itu. Aku mulai bertekad untuk jadi orang besar. Membuktikan pada kedua orang tuaku bahwa aku bisa membanggakan mereka dengan segudang kemauanku untuk lebih melihat dunia. Orang tuaku merasa terbebani keika aku berbicara pada mereka karena aku ingin sekolah lagi ke SMA. Dengan penghasilan mereka yang tak seberapa, keinginanku malah lebih tinggi untuk bisa merubah keadaan keluargaku yang mungkin bisa dibilang miskin. Memang, kami hidup di sebuah desa kecil yang jauh dari keramayan apalagi gedung-gedung tinggi. Rumah berlantai dua pun, terasa rumah yang paling mewah bagi masyarakat desa itu. Yang ada hanya pesawahan dan tanah-tanah kosong milik warga yang dipenuhu dengan rumput yang menjulang tinggi karna tidak diurus. Namun pada waktu itu, ada program pemerintah dareah menyediakan tunjangan sekolah gratis untuk bisa memperluas pengetahuan anak-anak pada masa itu. Sungguh baiknya pemerintah dalam hal itu, dan sungguh senangnya pula anak-anak yang baru lulus SMP.            Aku mengenal seseorang yang tak asing bagiku. Ketika duduk di kelas dua, aku merasakan hal yang berbeda dari perasaan yang biasanya aku alami. Perasaan inilah yang sering teman-temanku sebut sebagai cinta. Entahlah, mungkin tterdengar aneh. Tapi hatiku selalu ingin memanggil namanya. Tia namanya. Ia begitu cantik, baik, anggun, dan semua orang seperti berlomba ingin menjadi kekasihnya. Pada saat aku bertemu dengannya untuk membuat percakapan kecil, aku pun selalu melawan hatiku untuk tidak terlalu memperlihatkan bahwa aku telah menganguminya. Aku memang tak sanggu memulai percakapan itu. Ia hanya sedang berjalan di lorong kelas bersama temannya dan memberikan senyuman manisnya itu kepadakau. Aku ingat pada waktu itu aku sedang berkumpul dengan temanku di sebuah kantin di luar gerbang sekolah. Aku hendak mencari tahu tentang Tia. Sampai pada seorang siswa mengendarai sepeda motor tidak jauh dari tempat aku dan kawanku berkumpul. Tiba-tiba ada yang mengatakan “tuh pacarnya Tia, dia atlet. Pantes Tia mau sama dia”. Harapanku untuk mencari tahu tentang seorang gadis yang telah membuat hatiku lulih ini, telah hilang hanya sekejap karena perkataan satu temanku tadi. Hatiku mulai hancur, kesal, dan kecewa. Namun aku tak berhenti sampai disitu, harapanku untuk mendekatinya semakin menggebu-gebu. Hingga aku putuskan untuk berbicara padanya dan satu temannya agar kami menjadi sahabat. Ayolah,, kata sahabat pun aku belum mengerti pila. Tapi hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa dekat dengannya.            Beberapa bulan pun berlalu, kami bertiga semakin dekat. Aku, Tia, dan Irma, kami selalu bersama ketika jam istirahat mulai. Kami lebih memilih untuk tidak langsung pulang kerumah ketika bell pulang sudah dibunyikan. Kami selalu berbagi cerita kami tentang apapun. Kecuali satu, orang yang aku kagumi. Ketika mereka bertanya adakah orang yang aku cintai, aku selalu menjawab tidak ada. Disini tidak ada gadis yang sama sekali menarik perhatianku untuk memberikan hatiku kepadanya. Aku selalu menjawab hal itu, sampai satu tahun berlalu, aku tak pernah membari tahu pada mereka siapa yang ada dihatiku.            Tiba waktunya Tia berulang tahun, kami merayakannya bersama di sekolah sebelum jam pulang tiba. Dimas selaku pacarnya Tia, datang untuk ikut merayakan ulang tahu kekasihnya. Betapa sakitnya hatiku karena dihadapkan pada suatu yang tak mau aku melihatnya. Namun apa daya, sebagai yang namanya seorang sahabat, aku harus tetap berada disitu hingga selesai.            Terlihat sekali bahwa Dimas adalah orang yang sangat sibuk dengan club olah raganya. Setiap hari ia berlatih agar mempertahankan gelar juara yang sudah dipegang sekolah sebelumnya. Karena hampir tiap bulan ada olimpiade olah raga sekabupaten. Sudah pasti Dimas ikut, karena ia salah satu yang terbaik dari semua atlet sekolah yang ada. Saking sibuknya, ia jarang menghubungi Tia. Tia selalu ingin bercerita tentang kehidupannya, ia ingin Dimas meeluangkan waktunya untuk bisa bertatap muka setiknya 10 menit saja. Tapi Dimas tidak bisa melakukan itu, ia terlalu sibuk dengan teman-teman atletnya. Sampai pada satu ketika Tia menangis setelah bertemu dengan Dimas. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti hal itu membuatku sedih sekaligus senang. Sedih karena melihat seseorang yang aku cintai memangis diguyuri air mata yang menyentuh bibir. Ingin sekali rasanya mengusap air mata itu. Tapi apalah aku, hanya seorang “sahabat” yang tak mengerti apa artinya sebuah persahabatan. Aku tak mampu menghiburnya kala ia membutuhkan hiburan untuk merubah kehidupannya. Senang karena aku beranggapan bahwa aku bisa masuk menggantikan posisi Dimas dalam hati Tia.            Dua bulan berlalu, Tia seolah tak ingat kejadian waktu itu yang telah membuat pipinya basah kucup dihujani air mata. Ia kini merasa tenang layaknya orang yang tak mempunyai masalah sedikitpun. Saat itu aku selalu menanyakan kabarnya setiap malam menjelang. Sebelum tidur kami selalu menyempatkan untuk menghubungi salah satu diantara kami. Entah itu lewat sms atau pun lewat telepon.


To Be Continue...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman Usia Dewasa: Sebuah Cinta Non-Romantis yang Menyakitkan

Tidak Pernah Benar-Senar Suka

Andai Aku Melihat-Mu