HAK ALAM SEMESTA UNTUK TETAP UTUH, TIDAK DIGANGGU OLEH MANUSIA


Tuhan menganugerahkan kepada manusia alam yang indah, dengan harapan, sebagai khalifah di muka bumi manusia dapat menjaga dan memanfaatkan alam untuk masa depan. Sebut saja gunung, hutan, laut semuanya sengaja diciptakan untuk memenuhi segala kebutuham hidup manusia. Konsekuensi yang akan didapat jika amanat besar itu tidak dilaksanakan, tentunya sangat besar.
Seperti yang kita ketahui, bumi dari hari ke hari bukan bertambah keindahannya, malah berkurang. Hal ini banyak disebabkan oleh manusia yang serakah menguras segala sumber daya alam tanpa menilik akibatnya dikemudian hari.
Bencana-bencana alam yang beberapa waktu lalu serempak melanda berbagai belahan bumi adalah tanda bahwa kita sebagai khalifah di muka bumi lalai menjaga alam. Mungkin saja, itu merupakan kemarahan alam terhadap keserakahan yang diciptakan manusia.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diingankan tersebut, kita harus bersama-sama menjaga alam yang kita huni.
Mata ini telah terbuka saat mentari datang menembus rindangnya pepohonan. Telinga yang ada telah mendengar suara nyanyian burung yang terbang dari pohon ke pohon. Ketika jam dinding terus bersuara, disitulah nikmat Tuhan terus mengalir. Mengalir disela hembusan napas. Mengalir disetiap degupan jantung.
Dahulu, kata ayah, kata ibu
Binatang ramai bersuara, gemercik air tak pernah sedikitpun pamit dipendengaran. Pohon tumbuh liar dimana-mana, tingginya ilalang bisa sampai menghalangi pandangan. Tempat mereka berteduh dan bersantai kala bermain bersama.
Dahulu, kata ayah, kata ibu
Hamparan sawah membentang dari ujung barat hingga ujung timur. Danau kecilpun terlihat sangat jernih membuat ikan sangat gesit tatkala melihat bayangan manusia. Tempat berenang bersama kala libur sekolah.
Sekarang, beda dengan dahulu
Wajah hijau telah terubah menjadi berbagai warna
Kemana sawah dan perkebunan ?  Yang terbentang indah
Kemana gunung dan hutan ?  Yang terlihat subur oleh berbagai pepohonan
Kemana pula ramainya hewan ?  Yang biasanya saling saut
Yang tersisa kini hanya tinggal cerita
Dulu sering ku lihat hamparan hijau sawah beratapkan langit biru
Kiri kanan sawah, tengahnya sungai
Di antara gunung matahari terbit malu-malu
Namun sekarang kemana?
Lapisan tanah becek berwarna coklat setiap habis hujan
Kini tanahku berwarna abu
Lama kucari tanah becekku
Tapi kenapa sekarang tak nampak?
Cemara kehidupan tinggi menjulang
Menjadi rumah bagi banyak hewan buatan Tuhan
Sekarang cemaranya tidak berwarna hijau dan teduh
Tetap tinggi tapi banyak jendela, banyak lampu
Mengapa bisa begitu?
Sering banjir, sering longsor
Di barat ada asap bikin marah tetangga
Padahal dahulu tidak begitu
Ibu pertiwi cuma tersedu tapi tidak malu
Sayang sekali ibu pertiwi kini tidak hanya sedih
Menanggung pilu sambil tertatih
Anak-anaknya nakal semua
Biar dimarahi tapi tak pernah jera
Manusia seharusnya tahu
Tahu apa yang menjadi hak alam untuk tetap utuh
Manusia seharusnya sadar
Sadar bahwa keadaan alam semakin kritis
Dan manusia seharusnya takut
Takut ketika kerusakan alam bisa menimbulkan berbagai dampak negatif
Bagi keberlangsungan makhluk hidup lain
Termasuk dirinya
Hak alam tetap utuh dan terjaga sangatlah besar
Manusia tak perlu membantu alam. Alam hanya butuh tangan-tangan berih yang mampu merawatnya. Malahan, alam yang nantinya bakal banyak membantu manusia.
Karena alam yang diciptakan Sang Pemberi Napas ini telah banyak menghasilkan apa yang dibutuhkan manusia.
Alam tak pernah menuntut manusia untuk mengembalikannya. Ia tak pernah meminta kita agar mengambil senjata untuk melindunginya.
Ia punya kewajiban sebagai salah satu komponen hidup
Ia berhak menegur dan marah terhadap manusia yang merusaknya
Sebagai manusia, sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan kekayaan alam
Gempa, tsunami, longsor, banjir, telah terjadi diberbagai penjuru dunia
Alam kembali membutuhkan tangan-tangan yang disertai dengan besarnya keikhlasan hati
Alam sangat menggantunggkan dirinya terhadap manusia
Dengan tidak merusak alam
Manusia sudah tak lagi disebut sebagai perusak
Manusia tak lagi dijadiakan sandaran alam yang tengah kritis
Karna manusia, adalah musuh pertama alam
Musuh yang harusnya bukan dibasmi, bukan diberantas
Tetapi musuh yang harus dijadikan sebagai kawan
Agar alam mampu mengembangkan kekayaannya sebagai salah satu yang menyediakan stock kebutuhan manusia
Alam harus kita jaga untuk anak cucu kita kelak
Alam harus tetap ada ketika anak cucu kita bertanya ini pohon apa dan itu pohon apa
Alam harus terjaga agar anak cucu kita pernah mengalami yang namanya naik gunung

# Save The Earth

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman Usia Dewasa: Sebuah Cinta Non-Romantis yang Menyakitkan

Tidak Pernah Benar-Senar Suka

Andai Aku Melihat-Mu