Kisah Pensil dan Penulis
Di suatu kamar
yang sunyi, terdapat tiga tokoh : Pensil A (usianya 8 bulan), Pensil B (usianya
1 minggu), dan seorang sastrawan yang selalu mengutarakan isi hatinya dengan
goresan pensil. Selama 7 bulan 3 minggu, Pensil A menemani si penulis dengan
mengikiskan tubuhnya pada kertas putih. Perasaan senang dan sedih selalu jadi
warna pengisi kertas tanpa tinta setitikpun itu. Saking sudah lamanya, Pensil A
disimpan tergeletak begitu saja. Dan si penulis menemukan Pensil B yang
dirancang canggih, awet, dan ramah lingkungan. Pensil A melihat penulis yang
selalu bersamanya, kini memiliki pendamping lain. Waktu terus berjalan, Pensil
A mulai tertutup oleh debu.
Namun, ketika ada pertemuan para penggiat karya sastra, Pensil B yang selalu
didambakan dan selalu ditunjukkan pada penulis lain, hilang entah kemana. Si
penulis bingung apa yg harus dipakai untuk menulis. Tiba-tiba, terlintas dalam benak sang Penulis,
bahwa masih ada Pensil A yang tersimpan dalam kamarnya. Lalu ia berpikir dan
bergegas untuk mengambilnya. Tetapi, entah mengapa si Pensil A telah menolak
digunakan untuk menulis. Tiap kali si Penulis meraut si Pensil, Pensil A selalu
mematahkan dirinya, karna ia rapuh dimakan usia, karna ia telah terkubur debu
kenangan yang cukup lama membuatnya tak enak. Dan karna ia merasa bahwa ia telah
disia-siakan oleh sang Penulis.
Ibarat kertas yang diremas dan tak pernah kembali ke bentuk sempurna, begitu halnya dengan kepercayaan ..So? buatlah orang lain percaya kalau Anda dapat dipercaya sepenuhnya !
Ibarat kertas yang diremas dan tak pernah kembali ke bentuk sempurna, begitu halnya dengan kepercayaan ..So? buatlah orang lain percaya kalau Anda dapat dipercaya sepenuhnya !
Semestinya kesempatan untuk sang penulis itu harus ada, semakin pensil A melakukan hal yang dibenci oleh penulis pasti penulis akan semakin benci kemudian membuang pensil A
BalasHapus